DIY Mini Speaker Bluetooth dari barang bekas

HM-ID
0
DIY Mini speaker bluethoot dari barang bekas
DIY Mini speaker bluethoot dari barang bekas

Kali ini Bloger Malas ingin membagikan proyek iseng di sela-sela kesibukan (Padahal pengangguran). DIY (Do It Yourself) ini memanfaatkan barang bekas seperti: potongan pipa paralon (PVC), sepasang speaker bekas laptop Sony dan modul bluethoot serta baterai bekas Nokia N-Gage.


Proyek ini sangat hemat biaya karena hampir semua materialnya adalah barang bekas yang ada di "Workshop Kamikaze" Bloger Malas. Hasil akhirnya? Cukup memuaskan untuk sebuah Mini Speaker Bluethoot yang seukuran upil satsuke!, meski ada beberapa catatan teknis yang menarik untuk dibahas.


Mari kita bedah prosesnya, dari tumpukan barang rongsokan hingga menjadi speaker fungsional!


1. Amunisi dan Material

Sebelum mulai, saya menggelar semua komponen di workspace. Berikut adalah daftar belanjaan (dan barang jarahan) untuk proyek ini:

  • Pipa Paralon (PVC)
    Ini adalah material utama untuk box speaker. Karena saya tidak punya mesin laser cut atau printer 3D, saya pakai metode 'tradisional' yaitu di panaskan untuk di bentuk menjadi lembaran PVC.
  • Speaker bekas Laptop Sony
    Sepasang speaker stereo ukuran mungil, sekitar 1.2 inci. Pada speakernya-nya tertulis spesifikasi ACD 8 Ohm 1W. Speaker laptop Sony terkenal dengan suaranya yang clear, meskipun jangan berharap sub-bass dari ukuran sekecil ini.
  • Modul Elektronik dan baterai
    Modul Bluetooth Receiver + Amplifier (2 X 3 Watt).
    Modul Charger TP4056 (Untuk isi ulang baterai).
    Baterai Lithium (Bekas Nokia N-Gage, 3.7V).
  • Perlengkapan Perang
    Tang potong, ampelas, lem (B-7000 dan Super Glue), obeng kecil, bor dengan mata Hole Saw, dan Flame Fire Torch (karena tidak ada hot gun).

Peralatan dan material yang digunakan
Peralatan dan material yang digunakan

2. Perakitan Box

Alih-alih menggunakan pipa bulat, saya ingin membuat box berbentuk kotak minimalis. Caranya? Potong pipa paralon secara vertikal, lalu panaskan menggunakan Flame Fire Torch secara perlahan sampai PVC-nya melunak. Setelah lunak, jepit dan pres di antara dua permukaan rata (misalnya, papan kayu) hingga dingin.


Catatan: "Bagusnya sih pakai hot gun untuk panas yang lebih merata, tapi the show must go on dengan apa yang ada!"


  • Pemotongan dan Pelubangan.
    Setelah menjadi lembaran PVC datar, saya potong-potong sesuai dimensi box yang diinginkan. Untuk panel depan, saya lubangi menggunakan mata bor Hole Saw agar lingkarannya rapi dan pas dengan ukuran speaker.
  • Perakitan Internal.
    Setelah semua potongan siap, saya rekatkan satu per satu menggunakan super glue. Speaker dipasang di bagian dalam. Seluruh modul (BT/Amp, Charger, Baterai) ditempatkan sedemikian rupa agar pas di ruang yang sempit, dengan port micro-USB untuk charger dan sebuah saklar on/off yang bisa diakses dari luar.
  • Finishing.
    Permukaan paralon yang sudah jadi lembaran sedikit kasar, jadi saya ratakan dengan ampelas halus. Setelah rapi, box dibersihkan dan siap untuk pengujian.

Perakitan Box dan pemasangan speaker serta modul bluethoot
Perakitan Box dan pemasangan speaker serta modul bluethoot

3. Test Sound

Setelah semua perakitan dan penyolderan selesai, box ditutup rapat. Saatnya pengujian!.

Saya menyalakan Bluetooth, menghubungkannya ke handphone, dan memutar beberapa lagu dari YouTube Audio Library. Indikator LED (biru di bagian depan) menyala, tanda koneksi berhasil dan indikator merah untuk pengecasan baterai.

Kesan

Hasil akhirnya, speaker fungsional dan tampilannya cukup minimalis dengan warna putih alami dari paralon. Suaranya? Sangat jernih (clear), vokal terasa crisp, khas karakter speaker laptop Sony. No bad for a first DIY!


Namun, ada catatan penting terkait performa audionya


Kenapa Bass-nya Kurang "Nendang"?

Foto cover paling atas adalah hasil akhir sekaligus pengujian. Suaranya jernih, namun bass-nya kurang bagus, malah bisa dibilang tidak nendang sama sekali.


Berdasarkan pengalaman dan analisa visual dari perakitan, ini adalah evaluasi kenapa performa frekuensi rendahnya kurang optimal:

  1. Keterbatasan Fisik Speaker (1W, 1.2" Driver)
    Ini adalah faktor utama. Speaker laptop didesain untuk mereproduksi frekuensi menengah dan tinggi agar suara percakapan jernih. Driver ukuran 1.2 inci dengan daya hanya 1W tidak memiliki daya dorong dan excursion (gerakan konus ke depan-belakang) yang cukup besar untuk menggerakkan udara di frekuensi rendah.
  2. Desain Enclosure (box) yang 'Sealed' Tanpa Optimasi
    Masalah terbesar bukan pada speakernya, melainkan pada housing-nya. Membuat box speaker tidak sekadar 'mengurung' speaker. Box yang berbentuk sealed (tertutup rapat). Udara di dalam box memberikan hambatan pada konus speaker, membuat driver yang dayanya kecil makin sulit bergerak di frekuensi rendah.

Tonton Videonya di Channel Youtube Bloger Malas di link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=g4CSkY67KBA

Kesimpulan

Proyek DIY (Do It Yourself) ini adalah pengalaman belajar yang luar biasa. Meskipun bass-nya kurang nendang, tujuan utamanya adalah untuk menyelamatkan barang rongsokan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang berfungsi sudah tercapai. Suara jernihnya sudah lebih dari cukup untuk menemani waktu gabut.


Selanjutnya? Mungkin saya akan mencoba merancang box baru dengan perhitungan volume dan ported system yang lebih baik, atau mencoba driver yang sedikit lebih besar. Tapi untuk sekarang, biarlah si kecil ini menjadi penghuni Workshop Kamikaze di Bloger Malas.


Keep modding, stay curious! dan seruput kopimu... :)


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default
ᯓ➤ Buka Terminal
ᯓ➤ Cari artikel
ᯓ➤ Buka BH (Bahas Habis)
ᯓ➤ Koding Online
ᯓ➤ Pinguin Legacy
ᯓ➤ Reload Halaman
>_

Bloger Malas💤

Sleep mode....